Carut-marut negeri ini yang sangat akrab dengan berbagai isu korupsi,ketidak adilan,kemiskinan dan berbagai tindak kejahatan pastinya tidak terjadi secara tiba-tiba. Generasi muda yang 18 tahun lalu menggoyang kemapanan yang dinilainya korup,akhirnya ttidak sedikit yang berbuat yang sama ketika mereka mendapatkan kesempatan. Mengapa budaya buruk seperti korupsi,ketidak adilan dan berbagai bentuk kejahatan lainnya ini begittu mudah menular ? Apanya yang salah di negeri ini? Salah satunya yang bisasa di blame adalah sistem pendidikan. Ketika pendidikan kita hanya fokus menghasilkan para intelekttual duniawi,maka tidak ada jaminan bahwa kepandaian mereka akan bermanfaat bagi dirinya sendiri apalagi bagi orang lain. Kepandaian mereka justru bisa membahayakan orang lain,seperti berbagai korupsi yang dirancang dengan canggih sehingga bisa terbebas dari jeratan hukum formal. Jadi,apa yang ahrus kita persiapkan agar generasi yang akan datang ttidak bertambah buruk ? Bukan harta dan bukan pula ilmu yang terpenting,tetapi iman lah yang terpenting. Kita akan merasa nyaman meninggalkan anak cucu keturunan kita menyongsong masa depannya,bila kita bisa yakin dengan bekal iman mereka. Inilah petujuk dari Allah yang disampaikan ke kita melalui kisah Nabi Yaqub as menjelang wafatnya,"Adakah kamu hadir ketuka Yaqub kedatangan (tanda-tanda)maut,ketika ia berkata kepada anak-anaknya,"Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab,"Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu,Ibrahim,Ismail dan Ishak,(yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya." ( QS Al-Baqarah [2]: 133 ) Generasi sekarang memang tidak sampai menyembah berhala dalam arti harfiah, tetapi berhala-berhala lain berupa kekuasaan,harta, kedudukan, jabatan, status sosial dlsb. adalah berhala-berhala modern yang di gandrungi umat generasi ini.
Ketika seorang pejabat publik menyalahgunakan kekuasaannya untuk korupsi, dia sedang kehilangan imannya. Ketika hakim berkelit memutus perkara hanya menggunakan pasal-pasal hukum formal dan meninggalkan keadilan yang sesungguhnya,dia sedang kehilangan imannya. Ketika seorang pegawai rela disuruh atasannya unttuk suap sana sini dalam memenangkan projek, ketika pegawai dengan sukarela makan riba maka merekapun lagi kehilangan imannya.
Bagaimana kita bisa membekali anak-anak kita dengan keimanan seperti anak-anak nabi Yakub, bila les bahasa inggris, matematika, fisika atau les piano, menari, melukis dlsb. dianggap penting sedangkan pelajaran keimanan di sekolah maupun di rumah hanya menjadi pelengkap saja ?
Maka inilah saatnya kita unttuk mengubah fokus pendidikan anak-anak kita. Kita siapkan mereka dengan bekal terbaiknya. Mereka dididik bukan hanya dengan ilmu tetapi lebih penting dari itu adalah pendidikan iman yang sampai mendarah daging terinternalisasi dalam diri mereka.
Lantas bagaimana agar pendidikan yang mendahulukan iman dari yang lain ini bisa di implementasikan secara masal di masyarakat ? Bukan hanya sekadar jargon yang sekarang pun sudah marak di sekolah-sekolah tertentu? Maka blue print pendidikan itu nampaknya memang harus di rombak total......
(by Muhaimin Iqbal)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar